El John News, Jakarta – Nabila Putri Giswatama, atau akrab disapa Giswa, resmi mengakhiri masa tugasnya sebagai Putri Pariwisata Indonesia 2025 Momen perpisahan tersebut berlangsung dalam Grand Final Pemilihan Putri Pariwisata Indonesia 2026 di Jakarta.
Setelah satu tahun menjalankan amanah sebagai Putri Pariwisata Indonesia, Wanita cantik asal Kalimantan Timur.ini, mengaku bersyukur dapat menyelesaikan seluruh tugasnya sekaligus menyaksikan tongkat estafet berlanjut kepada penerusnya, Lusia Carmenita Rosalia Lamba dari Nusa Tenggara Timur.
Menurut Giswa, berpindahnya gelar Putri Pariwisata Indonesia dari Kalimantan Timur ke Nusa Tenggara Timur menjadi sinyal positif bagi semakin luasnya promosi pariwisata Indonesia.
“Alhamdulillah, Giswa bersyukur karena ada penerusnya, dan penerusnya berasal dari NTT, sebuah provinsi yang sangat jauh dari Kalimantan Timur. Ini membuat Giswa semakin percaya bahwa promosi pariwisata nantinya akan semakin meluas,” ujar Lulusan Psikologi dari Universitas Diponegoro ini.
Ia menilai keberlanjutan kepemimpinan dari satu daerah ke daerah lainnya dapat memperluas representasi destinasi Indonesia. Menurutnya, promosi pariwisata tidak seharusnya hanya berpusat pada wilayah tertentu, tetapi terus bergerak memperkenalkan kekayaan Nusantara dari berbagai penjuru.
“Tidak hanya kemarin sudah di Pulau Kalimantan, sekarang bergeser kembali ke Pulau Nusa Tenggara. Menurut Giswa, ini salah satu hal yang sangat baik,” katanya.
Giswa pun menyampaikan pesan kepada Lusia Carmenita agar terus melanjutkan berbagai program dan semangat yang telah dibangun oleh para Putri Pariwisata Indonesia sebelumnya.
Ia berharap Lusia tidak hanya meneruskan program advokasi yang selama ini telah berjalan, tetapi juga berani menghadirkan gagasan baru untuk mengembangkan pariwisata Indonesia.
“Giswa berharap Putri Pariwisata 2026 bisa terus menjalankan, melanjutkan, dan meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh putri-putri sebelumnya,” pungkasnya.
Giswa juga berharap estafet tersebut tidak sekadar menjadi pergantian gelar, tetapi menjadi keberlanjutan perjuangan generasi muda dalam memperkenalkan destinasi, meningkatkan kunjungan wisatawan, serta membawa nama pariwisata Indonesia semakin dikenal di tingkat nasional dan internasional.
Terharu Tinggalkan Masa Tugas
Mengakhiri masa tugas selama satu tahun bukan perkara mudah bagi Giswa. Ia mengaku sangat terharu ketika harus menyerahkan tongkat estafet kepada Putri Pariwisata Indonesia 2026.
Bahkan, suasana haru sudah terasa ketika dirinya menyampaikan pesan terakhir atau last pitch di hadapan para finalis dan tamu undangan.
“Terharu banget, jujur. Tadi juga last pitch sudah nangis-nangisan. Karena perjalanan satu tahun ini sangat tidak gampang dan tidak mudah untuk dilakukan,” ungkapnya.
Selama menjalankan tugas, Giswa menyadari bahwa status sebagai Putri Pariwisata Indonesia membawa tanggung jawab besar. Ia tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga nama daerah, Indonesia, serta Yayasan EL JOHN Indonesia.
“Ada banyak nama daerah, nama Indonesia, dan nama Yayasan EL JOHN yang harus dijaga. Jadi Giswa tidak hanya bisa berkegiatan seperti normalnya manusia, tetapi juga harus menjaga martabat organisasi dan daerah yang Giswa bawa,” tuturnya.
Belajar Memilih untuk Bertahan
Dari perjalanan selama satu tahun tersebut, Giswa mengaku mendapatkan satu pelajaran penting, yakni arti bertahan dalam berbagai kondisi.
Ia menyebut, tidak semua perjalanan berjalan sesuai harapan. Ada situasi yang berat, kondisi yang tidak mendukung, hingga masa ketika dirinya merasa sangat lelah. Namun, kemampuan untuk tetap bertahan hingga menyelesaikan masa tugas menjadi pencapaian tersendiri baginya.
“Yang Giswa petik selama satu tahun menjalankan tugas adalah memilih untuk bertahan. Memilih bertahan di kondisi yang berat, memilih bertahan di kondisi yang ternyata tidak mendukung, dan memilih bertahan di kondisi yang sangat melelahkan,” katanya.
Menurut Giswa, bertahan hingga akhir merupakan bentuk kesuksesan tersendiri.
“Memilih untuk bertahan adalah sebuah kesuksesan, sampai akhirnya Giswa bisa menyelesaikan satu tahun penuh dengan Alhamdulillah baik,” ujarnya.
Tetap Bersinggungan dengan Pariwisata
Meski masa tugasnya telah berakhir, Giswa memastikan kiprahnya di bidang pariwisata tidak sepenuhnya berhenti. Ia sebelumnya telah menjalankan advokasi dan berkolaborasi dalam upaya pengembangan pariwisata Nusantara.
Namun, setelah menyelesaikan pendidikan sebagai sarjana psikologi, Giswa kini ingin memfokuskan diri membangun karier sebagai profesional di bidang psikologi.
“Saat ini Giswa sedang memfokuskan diri untuk bisa menjadi seorang profesional psikolog, untuk bisa membantu orang-orang,” jelasnya.
Menurutnya, latar belakang psikologi juga tetap memiliki keterkaitan dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Jika sebelumnya ia berkontribusi berdasarkan pengalaman selama menjalankan tugas sebagai Putri Pariwisata, kini pengetahuannya dapat diperkuat dengan teori dan pendekatan akademis.
“Tidak hanya meningkatkan SDM berdasarkan pengalaman, sekarang sudah bisa berdasarkan teori, berdasarkan hasil tes, dan lain sebagainya,” tutupnya.








